Suku Bunga: Ganjalan Besar yang Tak Mudah Digeser

Mata uang cadangan dunia pada minggu lalu (13-17 Juni) bergerak variatif. Kurs euro terhadap dolar jatuh sebanyak 0,1% dalam kerangka koreksi, serta karena kekhawatiran terhadap hasil referendum Brexit di Inggris yang dijadwalkan pada 23 Juni. Pada saat yang bersamaan, pound yang tidak berkorelasi dengan euro–menguat terhadap dolar sebanyak 0,6%. Yen Jepang dalam satu minggu terakhir berhasil memposisikan dirinya sebagai yang terkuat di antara mata uang-mata uang dari semua negara-negara berkembang, sehingga pada kelanjutannya berdampak pada kemunduran nilai dolar sebanyak 2%. Sementara Cina mengamati perjuangan dolar dan mata uang-mata uang lainnya hanya dari luar. Kurs yen terhadap dolar pada minggu lalu hampir tidak berubah.

Peristiwa penting pada minggu lalu adalah keputusan the Fed 15 Juni terkait tingkat suku bunga di AS (dengan hasil tanpa perubahan). Ketua the Fed, J. Yellen menjelaskan keputusan the Fed, bahwa perekonomian AS secara signifikan tergantung pada risiko-risiko eksternal, termasuk dari perlambatan laju perekonomian Cina sebagai konsumen barang-barang AS yang terbesar, risiko-risiko yang berpotensi timbul jika Inggris keluar dari UE–sebagai ancaman pelemahan ekonomi Eropa, serta perlambatan pertumbuhan negara-negara industri. Namun, Yellen memperingatkan bahwa suku bunga menjelang akhir tahun nanti kemungkinan besar akan dinaikkan.

Penjualan ritel di AS pada bulan Mei naik 0,5%, melebihi ekspektasi (kenaikan 0,3%). Akan tetapi pada bulan April, kenaikan angka penjualan ritel ini lebih signifikan (+1,2%), dan menunjukkan pemulihan ekonomi AS yang lambat. Jumlah produksi industri mengalami penurunan 0,4%, meskipun pasar memperkirakan penurunan hanya sebanyak 0,2%. Indeks harga konsumen bulan Mei secara tahunannya naik 1%, sedangkan prakiraan pasar adalah 1,1% atau seperti pada bulan April jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2015. Semua data ini kontradiktif, namun pasar valas dunia melihatnya sebagai hal negatif hanya bagi dolar.

BoE memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level 0,5%, atau seperti yang telah diperkirakan sebelumnya. Ekonomi Inggris mampu dengan cepat mengatasi krisis walaupun beberapa pengaruhnya masih tetap ada. Indeks harga konsumen bulan Mei secara tahunannya naik 1,2%, sedikit lebih rendah dari prakiraan 1,3%. Indeks harga produsen naik 0,5% (prakiraan 0,6%). Akan tetapi, penjualan ritel bulan Mei secara tahunannya meningkat 6% (prakiraan hanya kenaikan 4%). Sedangkan secara bulanannya, pertumbuhannya adalah 0,9% (prakiraan 0,2%).

Statistik ini membuat para pendukung Brexit yakin terhadap tingkat stabilitas ekonomi Britania Raya. Inggris akan keluar dari krisis dengan memikul sedikit kerugian daripada UE. Oleh sebab itu, Brexit kemungkinan tidak memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap perekonomian negara dan standar hidup warganya. Sementara para penentang Brexit berpikir sebaliknya, mereka cemas jika keluarnya Inggris dari UE dapat membuat semua upaya BoE dan pemerintah untuk keluar dari krisis menjadi sia-sia, dan berakhir dengan sebuah resesi. Adapun semua statistik ini telah mendorong nilai pound untuk naik, namun, bagaimanapun juga, hampir semua trader valas akan mengagendakan referendum Brexit (dalam trading-nya), yang tersisa tiga hari lagi, dan hasilnya saat ini masih sulit untuk diprediksikan.

Sementara itu, jumlah produksi industri bulan April di UE secara tahunannya meningkat 2%, mengalahkan ekspektasi pasar yang berupa peningkatan 1,3%. Adapun data yang lebih beragam lagi adalah inflasi. Indeks harga konsumen bulan Mei secara tahunannya turun 0,1%, sesuai dengan prakiraan. Sedangkan secara bulanannya, pertumbuhan inflasi dari harga konsumen adalah 0,4%, atau 1 poin lebih tinggi dari yang diharapkan. Namun demikian, pasar mengabaikan data-data positif akibat isu terkait efek negatif bagi perekonomian Eropa jika Inggris benar-benar keluar dari UE.

Di Jepang, keputusan suku bunga bank sentral tetap tidak berubah dan tetap berada di level negatif (-0,1%). Jumlah produksi industri bulan April turun 3,3% secara tahunannya. Jika dibandingkan dengan level bulan Maret, maka laju penurunannya mengalami perlambatan, dan hal ini optimis dirasakan oleh para pelaku pasar valas.

Apa pun hasil dari referendum Brexit, minggu ini akan menjadi momen bersejarah di Eropa.

Jadwal Peristiwa Penting Minggu Ini

Selasa, 21 Juni: pidato Presiden ECB, M. Draghi (13:00 GMT), pidato Ketua the Fed, J. Yellen (14:00 GMT).

Rabu, 22 Juni: rapat ECB (07:00 GMT), komentar Ketua the Fed, J. Yellen (14:00 GMT).

Kamis, 23 Juni: referendum Brexit.

Prediksi

Pada minggu ini kami memprediksikan bahwa pasangan euro/dolar akan diperdagangkan di kisaran 1.11-1.13, dinamika pasangan ini akan tergantung pada hasil referendum Brexit. Sementara pasangan pound/dolar dapat berfluktuasi di kisaran 1.40-1.44, dan dinamika pasangan ini selanjutnya (untuk alasan yang jelas) hanya akan tergantung sepenuhnya pada Brexit, dengan perkiraan tingkat volatilitas yang tinggi.

Ulasan Terkini

Setiap Orang Memiliki Kesempatan untuk Raih Profit

Anda bisa menghasilkan pendapatan tanpa harus melakukan <i>trading</i> sendiri. Cukup investasikan dana Anda ke akun <i>trader</i> berpengalaman dan raih profitnya!

Daftar

Ada situs web yang lebih cocok untuk kamu

Situs web baru dengan layanan yang lebih sesuai untuk lokasimu baru saja diluncurkan!

Daftar di sini dan dapatkan Bonus Sambutan 30%.